Sering Baca Novel? Yuk, Ketahui Lebih Dalam Tentang Seni Tertulis Ini

posted in: info | 0

Kamu sering atau suka membaca novel? Namun, tahukah kamu sejarah terciptanya novel? Dan siapa penulis pertamanya? Nah, kali ini saya akan memjelaskan mengenai novel secara lengkap. Penasaran? Langsung saja lihat dibawah ini.

Pengertian

Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yang luas pada masyarakat. Sebagai bahan bacaan, novel dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu karya serius dan karya hiburan. Pendapat demikian memang benar tapi juga ada kelanjutannya.

Yakni bahwa tidak semua yang mampu memberikan hiburan bisa disebut sebagai karya sastra serius. Sebuah novel serius bukan saja dituntut agar dia merupakan karya yang indah, menarik dan dengan demikian juga memberikan hiburan pada kita. Tetapi ia juga dituntut lebih dari itu. Novel adalah novel syarat utamanya adalah bawa ia mesti menarik, menghibur dan mendatangkan rasa puas setelah orang habis membacanya.

Novel yang baik dibaca untuk penyempurnaan diri. Novel yang baik adalah novel yang isinya dapat memanusiakan para pembacanya. Sebaliknya novel hiburan hanya dibaca untuk kepentingan santai belaka. Yang penting memberikan keasyikan pada pembacanya untuk menyelesaikannya. Tradisi novel hiburan terikat dengan pola–pola.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa novel serius punya fungsi social, sedang novel hiburan cuma berfungsi personal. Novel berfungsi social lantaran novel yang baik ikut membina orang tua masyarakat menjadi manusia. Sedang novel hiburan tidak memperdulikan apakah cerita yang dihidangkan tidak membina manusia atau tidak, yang penting adalah bahwa novel memikat dan orang mau cepat–cepat membacanya.

Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Penulis novel disebut novelis.

Genre novel digambarkan memiliki “sejarah yang berkelanjutan dan komprehensif selama sekitar dua ribu tahun”. Pandangan ini melihat novel berawal dari Yunani dan Romawi Klasik, abad pertengahan, awal roman modern, dan tradisi novella. Novella adalah suatu istilah dalam bahasa Italia untuk menggambarkan cerita singkat, yang dijadikan istilah dalam bahasa Inggris saat ini sejak abad ke-18. Ian Watt, sejarawan sastra Inggris, menuliskan dalam bukunya The Rise of The Novel (1957) bahwa novel pertama muncul pada awal abad ke-18.

Miguel de Cervantes, penulis Don Quixote, sering disebut sebagai novelis Eropa terkemuka pertama di era modern. Bagian pertama dari Don Quixote diterbitkan tahun 1605.

Roman adalah narasi prosa panjang yang terkait erat dengan novel. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, roman adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Walter Scott mendefinisikannya sebagai “narasi fiktif dalam bentuk prosa atau sajak. Tujuannya adalah menjadikan peristiwa di dalamnya sebagai peristiwa yang luar biasa dan jarang terjadi”, sementara dalam novel “peristiwa-peristiwanya adalah rentetan peristiwa biasa dalam kehidupan manusia dan keadaan masyarakat saat itu”.

Tetapi, banyak roman, termasuk roman-roman historis karya Scott, Wuthering Heights karya Emily Brontë, dan Moby-Dick karya Herman Melville, sering juga disebut novel. Roman yang disebutkan di sini berbeda dengan roman percintaan fiksi populer atau novel roman. Bahasa-bahasa Eropa lainnya tidak membedakan antara roman dan novel: “a novel is le roman, der Roman, il romanzo.”

Banyak sastrawan yang memberikan yang memberikan batasan atau definisi novel. Batasan atau definisi yang mereka berikan berbeda-beda karena sudut pandang yang mereka pergunakan juga berbeda-beda. Definisi–definisi itu antara lain adalah sebagai berikut:

  • Menurut Jakob Sumardjo Drs. Novel adalah bentuk sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak dicetak dan paling banyak beredar, lantaran daya komunitasnya yang luas pada masyarakat.
  • Menurut Dr. Nurhadi, Dr. Dawud, Dra. Yuni Pratiwi, M.Pd, Dra. Abdul Roni, M. Pd. Novel adalah bentuk karya sastra yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya social, moral, dan pendidikan.
  • Menurut Drs. Rostamaji, M.Pd, Agus priantoro, S.Pd. Novel merupakan karya sastra yang mempunyai dua unsur, yaitu : undur intrinsik dan unsur ekstrinsik yang kedua saling berhubungan karena sangat berpengaruh dalam kehadiran sebuah karya sastra.
  • Menurut Paulus Tukam, S.Pd. Novel adalah karya sastra yang berbentuk prosa yang mempunyai unsur-unsur intrinsic.

Sejarah Novel

Mengenal kelahiran novel memang tidak membuat kita jadi penulis hebat. Begitu juga tak akan membuat kita me-revolusi novel (buat apa coba?), tetapi setidak-tidaknya kita terpuaskan sedikit untuk menjawab jika ada pertanyaan-pertanyaan seperti: Novel mana yang dianggap sebagai novel pertama? Apakah Pamela karangan Samuel Richardson atau karya-karya Daniel Defoe seperti Robinson Crusoe? Bagaimana dengan Jane Austen? Memang tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Namun setelah mengenal kelahiran novel, setidak-tidaknya anda mempunyai jawaban dan alasan sendiri.

Sebelum tahun 1700-an, atau sebelum abad 18, novel-novel belum berbentuk seperti saat ini. Tulisan-tulisan yang disebut novel pada saat itu lebih mengacu kepada tulisan-tulisan pendek seperti Decameron. Tulisan ini dikumpulkan oleh Boccaccio (1313-1375).

Di beberapa tempat, sebelum kemunculan novel, terdapat karya sastra yang merupakan cikal bakal dari novel. Karya sastra itu bernama roman (dalam bahasa inggris disebut romance). Roman dibedakan dari novel karena beberapa alasan. Roman lebih menceritakan hal-hal yang tidak nyata di kehidupan manusia. Kalaupun menceritakan hal nyata, biasanya terlalu berlebihan sehingga masih tidak masuk akal.

Suatu hal yang jamak pada Roman jika dia memasukkan unsur-unsur magis, mantra, penyihir, dewa-dewi, atau pahlawan-pahlawan mistis. Bahkan bahasa puisilah yang dipakai untuk menuliskan cerita-cerita tersebut. Sementara itu pada abad ke-12 di Perancis, cerita roman lebih ke kisah percintaan khayal. Aturan-aturan cerita di dalamnya juga kaku, sesuai dengan aturan-aturan masyarakat saat itu. Disamping itu, roman biasanya ditulis berjilid-jilid seperti yang diungkapkan oleh Lord Chesterfield:

“a novel is a kind of abbreviation of a romance; for romance generally consists of twelve volume”

“sebuah novel mirip dengan ringkasan dari roman karena roman biasanya terdiri dari 12 jilid”

Meskipun demikian, novel tidak dapat dipisahkan secara tegas dari roman. Sampai sekarang pun novel-novel bernuansa magis, mantra, gothic juga masih ada. Anda tentu masih ingat dengan Harry Potter (J. K. Rowling), The Hobbit (J.R.R Tolkien), atau kisah fantasi lainnya.

Di Inggris, ketika James Watt menemukan mesin uap pada tahun 1765, revolusi industri mulai terjadi. Di tahun 1770, membaca novel seperti menonton bioskop di masa kini. Di masa itu, orang-orang mulai berpenghasilan sendiri. Sebelumnya, penghasilan seseorang kebanyakan dari warisan-warisan pendahulunya. Karena mereka berpenghasilan sendiri, maka sifat individualistik mulai tumbuh. Dengan demikian, kelas-kelas menengah mulai bermunculan. Apalagi kehadiran filsuf-filsuf naturalis seperti John Locke semakin memperkuat keinginan orang untuk dapat mengubah nasib sendiri. Era seperti inilah yang menunjang inspirasi seseorang untuk menulis novel.

Menurut Jeremy Hawthorn, ada empat faktor pendorong kehadiran novel.

Meluasnya Kemampuan Baca

Novel selalu dalam bentuk tertulis. Dengan demikian tentu mengharuskan penikmatnya dapat membaca. Meluasnya melek-huruf ini mendorong novel semakin meluas. Meskipun pada awalnya ada saja orang-orang buta huruf yang mendengar pembacaan cerita dari seorang penutur di jaman Charles Dickens (1812-1870), namun umumnya novel dibaca secara pribadi oleh seseorang.

Percetakan

Teknologi percetakan turut mendukung kehadirang novel. Percetakan memungkinkan suatu tulisan digandakan secara massal dalam waktu singkat. Percetakan ini pula lah yang semakin membedakan karya sastra lainnya dengan novel. Misalnya Drama. Karya ini lebih ditujukan pada kumpulan orang tertentu. Pada kumpulan ini, seorang pengarang Drama dapat langsung melihat tanggapan pemirsanya. Di novel, pembaca menikmati secara kolektif.

Seorang penulis juga tidak tahu reaksi dari pembacanya secara langsung sehingga timbul hubungan anonim. Sampai sekarang saya juga tidak tahu siapa itu Freddy S? Pengarang novel di tahun 80-an ini menuliskan banyak novel, tetapi sampai sekarang Freddy S seperti anonim bagi kita. Bahkan mungkin dianggap sebelah mata oleh sebagian orang karena ceritanya yang dibumbui esek-esek?

Ekonomi Pasar

Mendapatkan kenikmatan membaca suatu cerita jaman dulu agak sulit dibanding sekarang. Dulu, orang harus menggaji penulis (orang yang menggaji disebut patronage) atau berlangganan karya tulis terlebih dahulu. Saat ini penulis menggandalkan penerbit untuk berhubungan dengan pembaca. Tak dapat dielakkan, faktor kapitalisme berbicara. Penerbit tentu tak akan menerbitkan buku yang tak laku. Ekonomi pasar berlaku.

Individualisme

Ian Watt pernah menulis sebuah buku berjudul The Rise of Novel (1957). Buku tersebut membahas bahwa ada hubungan erat antara kemunculan novel dengan hadirnya kelas-kelas menengah di Inggris. Ia mengatakan, bahwa ada perbedaan mencolok antara novel dan roman. Pada novel, penggambaran individu yang berbeda satu sama lain sangat rinci. Tokoh novel mempunyai keinginan sendiri untuk menyelesaikan masalahnya, mempunyai sifat coba-coba (sifat penemu) sedangkan pada roman, sering hanya pasrah pada dewa-dewa. Tak ada keinginan individu yang nampak.

Rasanya ini juga berlaku sampai sekarang, bahwa novel lebih punya pembaca berjenis kelamin wanita daripada pria. Di Inggris, di masa-masa kebangkitan industri, seorang pria lebih banyak keluar rumah, eksplorasi sana-sani, maka hanya tinggalah wanita di rumah-rumah. Maka tak heran, menjelang abad-19, baik penulis ataupun pembaca novel adalah wanita. Anda tentu sangat mengenal George Eliot (nama aslinya Mary Anne), Jane Austen, atau Emily Bronte.

Novel Pertama Di Dunia

Novel yang terbit pertama di dunia ternyata lahir dari tangan perempuan. Seorang warga Jepang bernama Murasaki Shikibu. Novel ini kelak dikenal dengan judul The Tale of Genji. Tetapi, konon nama itu hanyalah nama samaran, alias nama pena penulis aslinya. Siapa nama aslinya? Masih menjadi misteri.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa Murasaki Shikibu adalah seorang pelayan istana yang cerdas. Tahun 998, dia menikah dengan seorang pria dan memiliki anak perempuan. Namun, tahun 1001 suaminya meninggal, sehingga beberapa tahun setelahnya dia diminta jadi dayang Istana Heian. Tiket menuju istana itu didapat karena ia cerdas dan punya kemampuan menulis. Selama di Istana Heian, Murasaki Shikibu selain bertugas sebagai dayang, ia berhasil menulis novel berjudul Genji Monogatari, yang kemudian diterjemahkan menjadi The Tale of Genji. Novel pertama di dunia ini berjumlah 1.000 halaman.

Karena lahir di istana, maka novel ini memiliki derajat kerumitan bahasa yang bahkan bagi orang Jepang sendiri sulit. Kerumitan lain novel ini, selain dari sisi bahasa juga dari teknis penyampaian, dimana Murasaki Shikibu dilarang menyebut nama dalam cerita. Penokohan hanya menyebutkan gelarnya saja. Misalnya pangeran, raja, ratu, atau barangkali ada istilah jomblo juga.

Kompleksitas konflik kerajaan saat itu, tentunya sangat tinggi, wajar jika para ahli banyak bekerja keras untuk mempelajari bahasa yang terdapat dalam The Tale of Genji. Para ahli berpendapat, Murasaki Shikibu sebenarnya sudah menulis jauh sebelum dia masuk istana. Jadi, dalam istilah puitis, menulis sudah seperti bernapas baginya. Maka, selain novel, dia juga menulis catatan harian dan puisi.

Isi novel

Hikayat Genji (源氏物語 Genji Monogatari) sendiri meski sudah diterbitkan tahun 1001 namun proses penulisannya dianggap belum selesai pada tahun tersebut.

Novel ini cerita yang sangat panjang dan terdiri dari 54 bab. Isinya mengenai kisah seputar istana kekaisaran yang terdiri dari 800 waka. Secara garis besar terdiri dari 3 bagian:

Bagian I: kelahiran tokoh utama sebagai seorang pangeran (putra kaisar) yang menjadi warga biasa dan diberi nama kehormatan Genji, dan dikenal dengan nama Hikaru Genji. Setelah dewasa, Hikaru Genji dikelilingi banyak wanita.

Bagian II: kerumitan kisah cinta Hikaru Genji.

Bagian III: kisah anak cucu Hikaru Genji setelah ia tutup usia.

Penulisan novel ini diperkirakan perlu waktu satu dekade. Bab-bab paling awal mungkin ditulis untuk majikan sewaktu dia masih bersuami atau tidak lama setelah suaminya meninggal. Dia terus menulis selama bekerja di istana dan kemungkinan selesai ditulis ketika dia masih bekerja untuk Shōshi.

Dalam buku The Pleasures of Japanese Literature, Keene mengklaim bahwa Murasaki menulis “adikarya fiksi Jepang” dengan mengambil unsur-unsur tradisi waka buku harian istana, dan Monogatari asal zaman sebelumnya, ditulisnya dalam campuran aksara Tionghoa dan aksara Jepang seperti dalam Putri Kaguya atau Hikayat Ise. Ia mengambil unsur-unsur serta mencampurkan gaya penulisan sejarah Cina, puisi naratif, dan prosa Jepang kontemporer.

Menurut salah satu ahli sastra klasik, Adolphson, penempatan subjek yang biasa-biasa berdampingan dengan gaya sastra Tionghoa menghasilkan kesan parodi atau satire, sekaligus cara pengungkapan yang unik.

Hikayat Genji mengikuti format tradisional monogatari yang mengisahkan sebuah cerita, terutama jelas terlihat dari penggunaan narator. Ada pakar sastra klasik yang berpendapat bahwa Murasaki mengembangkan genre monogatari melampaui batas-batas yang ada dan dengan demikian telah menciptakan suatu bentuk yang sama sekali modern.

Cerita Hikayat Genji berlatar pada akhir abad ke-9 hingga awal abad ke-10, dan Murasaki menghilangkan unsur-unsur dongeng dan fantasi seperti sering ditemukan pada monogatari sebelumnya. Murasaki sukses mengemas tema utamanya yakni kerapuhan hidup.

Dalam salah satu bagian, diceritakan tentang “pangeran bersinar”, tokoh Pangeran Genji dibentuknya sebagai protagonis yang berbakat, tampan, berbudi halus, namun masih manusiawi dan simpatik.

Menurut Helen McCullough karya Murasaki memiliki daya tarik universal dan berpendapat bahwa Hikayat Genji melampaui baik genre maupun zaman. Tema dasar dan latar, cinta di istana Heian, dan asumsi-asumsi budaya berasal dari pertengahan zaman Heian. Namun kegeniusan Murasaki Shikibu yang unik telah membuat karyanya berarti bagi banyak orang sebagai sebagai pernyataan kuat dari hubungan antar manusia, kemustahilan kebahagiaan abadi dalam cinta dan yang terpenting, dalam dunia penuh kesengsaraan, kepekaan terhadap perasaan orang lain. Pangeran Genji mengakui bahwa dalam diri setiap kekasihnya terdapat kecantikan dari dalam seorang wanita dan kerapuhan hidup.

Hikayat Genji populer di semua kalangan. Kaisar Ichijō meminta agar cerita itu dibacakan untuknya meskipun ditulis dalam bahasa Jepang. Pada tahun 1021, semua bab diketahui sudah selesai ditulis, dan karya ini sulit diperoleh di daerah-daerah sehingga banyak dicari orang. Selain dicatat sebagai novel pertama di dunia, The Tale of Genji juga dikenal sebagai novel bergenre roman pertama. Dan, hingga saat ini karya tersebut terus diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dipentaskan.

Unsur-unsur Novel

Unsur-unsur yang terdapat dalam novel ada dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur-unsur dalam yang membangun utuhnya sebuah novel. Unsur intrinsik contohnya tema, alur, latar, tokoh, penokohan, sudut pandang, gaya cerita, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang ikut membangun utuhnya sebuah novel seperti keagamaan, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan nilai-nilai yang dianut masyarakat.

Unsur Intrinsik Novel

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.

Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antar berbagai unsur intrinsik inilah yang membuat novel terwujud. Atau sebaliknya, jika dari sudut pandang pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca novel. Unsur yang dimaksud, untuk menyebut sebagian saja, misalnya tema, peristiwa, cerita, plot, penokohan, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain (Nurgiyantoro, 2000:23).

Dari uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa unsur intrinsik sebuah novel itu diantaranya adalah tema, tokoh, penokohan, latar, alur sudut pandang, dan, amanat. Unsur tersebut dibangun dengan perpaduan yang menyatu dan berkesinambungan.

1. Tema

Stanton dan Kenny dalam Nurgiyantoro (2000:67) berpendapat bahwa tema adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Pengarang dalam menulis sastra biasanya bercerita tetapi hendaknya mengatakan sesuatu kepada pembacanya. Karya sastra yang baik tentunya harus bermakna. Makna sebuah cerita novel tidak secara jelas dikatakan oleh pengarang tetapi menyatu dengan unsur novel yang harus ditafsirkan pembaca. Secara singkat, Brooks dan Waren mengatakan hal yang sama bahwa tema adalah dasar atau makna sebuah cerita (Tarigan, 1984:688).

Aminuddin (2002:91) menjelaskan bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Selain itu Fananie (2001:84) juga menjelaskan Ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatar belakangi cipta karya sastra merupakan inti dari tema.

Tema berarti pokok pikiran atau masalah yang dikemukakan dalam sebuah cerita atau puisi oleh pengarangnya (Badudu dan Zain, 1994:16463). Dengan, tema semua permasalahan dalam sebuah karya sastra akan terwujud dengan baik dan benar. Oleh karena itu, peranan tema menjadi pokok pikiran yang diutamkan dalam membuat karya sastra.

Dari beberapa pendapat diatas yang telah dikemukakan di atas peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa tema merupakan suatu ide, pokok pikiran yang mengandung makna dan merupakan suatu gagasan sentral dalam sebuah cerita.

2. Tokoh dan Penokohan

Jalan cerita dalam novel dilakukan oleh tokoh cerita. Tokoh ialah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita (Sudjiman, 1991:16). Tokoh pada umumnya berwujud manusia, tetapi juga dapat berwujud binatang atau benda-benda yang diinsankan. Individu ini semata-mata hanya bersifat rekaan, tidak ada dalam dunia nyata. Bila pun ada mungkin hanya kemirip-miripan dengan individu tertentu yang memiliki sifat-sifat yang sama yang kita kenal dalam kehidupan kita.

Pengertian tentang tokoh di ungkapkan pula oleh Abram yang di kutif dari Nurgiyantoro (2000:165) bahwa tokoh cerita (character) adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya fiksi, oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral yang diekspresikan dalam ucapan dan dalam tindakan. Tokoh yang baik dalam cerita adalah tokoh yang dianggap oleh pembaca sebagai tokoh konkret. Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan, ia haruslah merupakan seorang tokoh yang hidup secara wajar.

Membicarakan masalah tokoh berarti membicarakan pula penokohan. Penokohan menyaran pada perwatakan, karakter dari tokoh yang menunjuk pada sifat dan sikap. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan tokoh-tokoh dalam cerita (Kosasih, 2003:256).

Berdasarkan definisi tentang tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh adalah pelaku cerita yang ditampilkan pengerang sesuai dengan penggambaran aspek kejiwaan dan tingkah laku seseorang dalam kehidupan. Sedangkan penokohan ada watak yang dimilki oleh tokoh cerita.

3. Latar

Latar adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat, waktu dan keadaan yang menimbulkan peristiwa dalam sebuah cerita. Peristiwa-peristiwa terjadi pada suatu waktu dan pada tempat tertentu (Yusuf, 1995:159). Hal itu sejalan dengan yang diungkapkan Sudjiman (1991:44). Ia mengungkapkan bahwa Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya membangun latar cerita.

Hal serupa diungkapkan oleh Abram dalam Nurgiyantoro (2000:216) yang menyebutkan bahwa latar sebagai landas tumpu yang menyaran pada tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa diceritakan. Latar memberikan pijakan secara konkret dan jelas. Hal ini sangat penting untuk memberikan kesan yang lebih realistis kepada pembaca, sehingga pembaca mampu menggunakan daya imajinasinya. Suasana yang diceritakan seolah-olah pernah terjadi.

Pentingnya latar dalam novel dikemukakan pula oleh Hartoko dan Rahmanto (1986:78). Dikatakan bahwa latar adalah penempatan dalam ruang dan waktu seperti terjadi dengan karya naratif atau dramatis. Latar penting untuk menciptakan suasana dalam karya. Selanjutnya Maman Mahayana (2005:178) menjelaskan pengahadiran latar oleh pengarang tentu bukan tanpa maksud. Ada sesuatu yang hendak disampaikan, baik untuk keindahan, maupun untuk memperkuat tema. Hal tersebut merupakan bagian dari fungsi latar pada sebuah novel.

Lebih luas lagi Sumarjo (1986:75) menambahkan bahwa setting atau latar dalam karya fiksi bukan hanya sekedar background artinya bukan hanya menunjukan tempat kejadian dan kapan terjadinya. Sebuah novel memang harus terjadi di suatu temoat dan dalam suatu waktu. Intinya sebuah cerita didasarkan atas tempat atau ruang terjadinya sebuah peristiwa.

Sedangkan Kenney dalam Sudjiman (1991:44) menegaskan bahwa latar meliputi penggambaran lokasi geografis, temasuk tipografi pemandangan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan. Misalnya pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu terjadinya peristiwa, masa sejarahnya, musim terjadinya termasuk lingkungan agama, moral, intelektual, sosial masyarakat serta emosional para tokoh.

Latar dibagi ke dalam dua jenis yaitu latar fisik dan latar spritual. Latar fisik terdiri dari latar tempat dan waktu. Nama-nama lokasi tertentu seperti nama kota, desa, jalan, sungai, dan lain-lain. Hubungan waktu seperti tahun, tanggal, pagi, siang, malam, dan lain-lain yang menyaran pada waktu tertentu merupakan latar waktu. Latar spritual dalam karya fiksi berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku ditempat bersangkutan. Ada juga yang menyebutnya sebagai latar sosial.

Seperti yang telah dikemukakan, unsur latar di bedakan atas tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Dari definisi latar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa latar adalah lingkungan sosial, tempat dan waktu yang diciptakan pengarang guna memberikan kesan realistis kepada pembaca mengenai peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi.

4. Alur

Alur atau plot merupakan kerangka dasar yang amat penting. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain. Plot sebagai peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.

Alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin, 2002:83). Latar merupakan cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.

Dari uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa plot merupakan rangkaian peristiwa dalam suatu cerita berdasarkan hubungan sebab akibat dan maju mundurnya waktu.

5. Sudut Pandang

Dalam penyampaian cerita, pengarang dapat menggunakan sudut pandang melalui cerita. Dalam hal ini, pencerita tidak sama dengan pengarang. Pencerita adalah tokoh yang menyampaikan cerita yang dapat dilakukan melalui pencerita orang pertama (aku) dan orang ketiga (dia). Oleh karena itu, perncerita bisa dibedakan berdasarkan siapa penceritanya (Mahayana, 2005: 157).

Abrams menyatakan bahwa sudut pandang atau Point of view, menyaran kepada sebuah cerita dikisahkan. Ini merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Nurgiyantoro, 2000: 142). Sudut pandang juga merupakan teknik yang dipergunakan pengarang untuk menemukan dan menyampaikan makna karya artistiknya, untuk dapat sampai dan berhubungan dengan pembaca.

Sudut pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibedakan ke dalam dua macam, yaitu persona pertama, first-persona, gaya “Aku”, dan persona ketiga, third-persona, gaya “Dia”. Jadi dari sudut pandang “Aku” dan “Dia” , dan variasinya, sebuah cerita dikisahkan. Kedua sudut pandang tersebut masing-masing menuntut konsekuensinya sendiri.

Oleh karena itu, wilayah kebebasan dan keterbatasan perlu diperhatikan secara objektif sesuai dengan kemungkinan yang dapat dijangkau sudut pandang yang dipergunakan. Bagaimana pun pengarang mempunyai keterbatasan yang tak terbatas. Ia dapat mempergunakan beberapa sudut pandang dalam sebuah kaya jika hal itu dirasakan lebih efektif (Nurgiyantoro: 2000: 251).

Berdasarkan pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa sudut panang merupakan penempatan diri pengarang dan cara pengarang dalam melihat kejadian-kejadian dalam cerita yang dipaparkannya.

6. Amanat

Amanat adalah suatu ajakan moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara implisit ataupun eskplisit. Implisit, jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan di dalm tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir (Sudjiman, 1991:35). Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, ujaran, larngan, dan sebagainya, berkenaan dengan gagasan yang mendasari gagasan itu (Sudjiman, 1991:24).

Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan amanat adalah pesan atau nasihat pengarang yang disampaikan kepada pembaca, secara implisit ataupun eksplisit.

Unsur Ekstrinsik Novel

Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, namun secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra (Nurgiyantoro, 2000:24), unsur-unsur ekstrinsik ini anatara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang mempunyai sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang semuanya akan mempengaruhi karya sastra yang ditulisnya. Tjahjno (1988:450) juga mengutarakan bahwa unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada di luar struktur karya sastra, namun amat dipengaruhi karya sastra tersebut.

Menurut Rene Wellek dan Austin Warren dalam Tjahajono (1988:450), pengkajian terhadap segi ekstrinsik karya sastra mencakup empat hal yaitu:

  1. Mengkaji hubungan antara sastra dengan biografi atau psikologi pengarang. Yang jelas anggapan dasarnya bahwa latar belakang kehidupan pengarang tau kejiwaannya akan mempengarauhi terhadp proses penciptaan karya sastra.
  2. Mengkaji hubungan sastra dengan aspek-aspek politik, sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Situasi sosial palitik ataupun realita budaya tertentu akan berpengaruh terhadap karya sastra.
  3. Mengkaji hubungan antara sastra dengan hasil-hasil pemikiran manusia, ideologi, filsafat, pengetahuan, dan teknologi.
  4. Mengkaji hubungan antara sastra dengan semangat zaman, atmosfir atau iklim aktual tertentu. Semangat zaman di sini bisa menyangkut masalah aliran semanagt digemari saat ini.

Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra bergantung pada pengarang menceritakan karya itu. Unsur ekstrinsik mengandung nilai dan norma yang telah dibuatnya. Norma adalah suatu ketentuan atau peraturan-peraturan yang berlaku dan harus ditaati oleh seseorang. Di dalam Dictionary Of Sociology and Related Sciences dikemukakan juga bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia (Kaelan, 2002:174).

Nah, itulah penjelasan mengenai novel. Gimana? Sekarang kamu sudah tahu bukan mengenai sejarahnya. Unsur-unsurnya dan siapa penulis pertama novel bukan? Semoga artikel diatas bisa sangat bermanfaat dan menambah wawasan ya. Terima kasih dan selamat membaca.