Wow, Bunga Bangkai Ini Tumbuh Di Pinggir Jalan

posted in: umum | 0

Tahukah Anda apa itu suweg? Ya, suweg merupakan nama lokal dari bunga bangkai atau Amorphophallus paeonifolius. Marga Amorphophallus ini masuk ke dalam suku Araceae atau talas–talasan. Ternyata, marga ini memiliki 176 jenis yang tersebar di seluruh dunia.

Menurut Hetterscheid dalam bukunya Giant from the Forest (1996), Amorphophallus, di Indonesia memiliki 25 suku Araceae jenis endemik yang persebarannya berada 8 jenis di Sumatera, 6 jenis di Jawa, 3 jenis di Kalimatan dan 1 jenis di Sulawesi.

Baru–baru ini satu bunga bangkai tumbuh di pinggir jalan tepat di pertigaan Kampung Cijagra, Bojong Salak, Desa Cilampeni, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, Kamis (12/01/2017) lalu. Diduga bunga bangkai berukuran 30 cm tersebut tumbuh sejak satu pekan terakhir, namun saat ini kondisinya sedikit sudah layu.

Keberadaan bunga bangkai tersebut sempat menarik perhatian warga yang melintas. Hal tersebut dibenarkan oleh Wawan Sugiarto (40), pedagang bakso yang lapaknya berdekatan dengan kemunculan bunga bangkai tersebut. Dia menceritakan ihwal asal–usul kemunculan bunga bangkai tersebut sekitar pertengahan pekan pertama.

“Awal munculnya saya kurang begitu ngeuh. Tapi bunga bangkai itu saya liat Sabtu pekan lalu ketika ukurannya sudah besar. Setelah itu banyak yang berhenti hanya sekedar memastikan tanaman yang (mungkin) baru warga liat, tapi saya menyebutnya itu suweg,” papar Wawan.

Wawan menuturkan tanaman tersebut kadang tumbuh menjelang musim penghujan. Dia juga menceritakan pengalamannya sering menjumpai tanaman tersebut tumbuh di pekarangan rumah atau kebun tetapi sekarang sudah jarang menemukan tanaman tersebut tumbuh.

Warga lainnya, Taufik Hidayat (40) mengaku bahwa bunga bangkai atau suweg tersebut merupakan hasil menanam dirinya pada saat menjelang akhir tahun 2016 lalu.Dari pengakuannya bibit tersebut berasal Garut.

“Sebenarnya saya yang tanam ini. Bibitnya dikasih oleh majikan yang dibawa dari Garut. Lalu saya tanam di depan pabrik yang mengolah tepung dari iles. Bibit bunga bangkai ini saya tanam bersamaan dengan bibit iles di pekarangan pabrik persis disamping jalan,” kata dia sembari menunjukan bibit bunga bangkai tersebut.

Lebih lanjut Taufik menerangkan biji suweg atau bunga bangkai yang ukurannya sebesar kepalan tangan orang dewasa ini hanya ditanam dilubang yang tidak begitu dalam, setelah itu ditutup kembali menggunakan tanah dan dibiarkan tumbuh tanpa perawatan yang berlebih.

Berdasarkan data yang dihimpun,Tanaman ini bisa tumbuh dimana saja seperti di pinggir kawasan hutan,rumpun bambu, pinggiran sungai serta semak belukar yang teduh oleh tegakanan pohon.

Perawakan suweg,memiliki permukaan kulit bintil-bintil serta tonjolan yang sebenarnya merupakan anak umbi dan tunas. Batangnya berwarna hijau belang-belang putih mirip tubuh ular, namun itu hanyalah tangkai daun yang akan terus mengembang menjadi daun dan membentuk payung dengan lebar sekitar 1 meter, pun diameter batang seweg bisa mencapai 10 sentimeter dengan tinggi 1.5 meter.

Batang suweg akan menguning dan layu lalu kemudian mati manakala menjelang musim kemarau. Pada fase kemarau umbinya akan mengalami masa dorman (istirahat) dan akan tumbuh lagi pada saat musim penghujan. Tanaman suweg tumbuh di lahan yang cocok dengan tuntutan tanah yang gembur di bawah tegakan pohon dan bisa hidup dibawah 800 mdpl dengan curah hujan yang cukup dengan tuntutan agroklimatnya.

Dikutip dari website wikipedia, suweg Amorphophallus campanulatus yang hampir serupa dengan bunga bangkai Amorphophallus titanum. Kadang masyarakat masih keliru bahwa bunga bangkai Amorphophallus ini sering disamakan dengan bunga Raflesia Sp. Selain suweg dan bunga bangkai, masyarakat juga mengenal iles-iles (Amorphophlallus konyac) dan acung (Amorphophallus variabilis).

Penasaran akan hal itu, Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bandung, Jumhana. Dikatakan Jumhana, tanaman yang tumbuh tersebut merupakan bunga bangkai jenis Amorphopalus Paeoniifolius yang masuk ordo plantae.

“Yang tumbuh di lapangan itu saya lihat deskriftifnya berasal dari Jawa yang disebut puspa langka. Sudah dipatenkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), tanaman tersebut masuk pada bunga langka,” papar dia.

Dia menjelaskan umur bunga bangkai tersebut hanya berkisar 1 minggu dari mulai bunga itu mekar lalu setelah itu akan layu dan mati. Cuma munculnya bunga bangkai jenis ini kadang tidak diketahui sebelumnya, bahkan terkesan tiba – tiba sudah tumbuh.

Jumhana berujar tanaman yang tumbuh di Katapang tersebut bukan suweg, karena memang berbeda sekali dengan bunga bangkai Amorphopalus Paeoniifolius.“Suweg pan masuk umbi–umbian dan jika ditanam daunnya merambat. Nah kalau bunga bangkai yang tumbuh itu hanya kuncupnya saja. Jadi sangat beda sekali,” ucap Jumhana saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, belum ada teknik pembudidayaan atau penanaman bunga bangkai karena dilatarbelakangi masih minimnya teknik maupun pengetahuan. Terkait munculnya bunga bangkai tersebut, pihaknya tidak bisa melakukan antisipasi mengingat tanaman tersebut sudah hampir layu, tetapi sudah diinformasikan kepada pihak BBKSDA. Gimana artikel diatas? menarik bukan?

Wologai, Kampung Adat Yang Berusia 800 Tahun

posted in: info | 0

Keren, kali ini saya akan membahas tempat wisata yang telah berusia 800 tahun. Bayangkan, 800 tahun. Wow, langsung saja liat ulasannya dibawah ini.

Jika berkunjung ke Kabupaten Ende, jangan lupakan menyempatkan diri datang ke Kampung Adat Wologai. Kampung yang terletak di ketinggian sekitar 1.045 mdpl merupakan salah satu kampung adat tersisa yang masih ada di Flores. Diperkirakan usianya sudah sekitar 800 tahun.

Wologai terletak sekitar 37 kilometer arah timur kota Ende, di Kecamatan Detusoko yang dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun mobil sewaan dengan harga sekitar 300 ribu rupiah selama sehari.

Di bagian depan sebelah kanan pintu masuk kampung terdapat sebuah pohon beringin yang diyakini komunitas adat Wologai ditanam oleh leluhur mereka, yang sekaligus konon setara dengan waktu pendirian kampung adat ini.

Satu hal unik dari Wologai adalah arsitektur bangunannya yang berbentuk kerucut. Rumah-rumah dibangun melingkar dan ada tiga tingkatan dimana setiap tingkatannya disusun bebatuan ceper di atas tanah yang sekelilingnya dibangun rumah-rumah. Semakin ke atas, pelataran semakin sempit menyerupai kerucut.

Deretan rumah panggung di kampung ini dibangun melingkar mengitari Tubu Kanga, sebuah pelataran yang paling tinggi yang biasa dipakai sebagai tempat digelarnya ritual adat. Batu ceper yang terdapat di tengah digunakan serupa altar untuk meletakan persembahan bagi leluhur dan sang pencipta.

Rumah panggung ini dibuat dari kayu yang diletakan di atas 16 batu ceper yang disusun tegak untuk dijadikan tiang dasar penopang bangunan ini. Bangunan dengan panjang sekitar 7 meter dengan lebar sekitar 5 meter ini memiliki atap berbentuk kerucut yang dibuat dari alang-alang atau ijuk. Tinggi banguan rumah sekitar 4 meter sementara atapnya sekitar 3 meter.

Filosofi Bentuk Bangunan

Menurut Bernadus Leo Wara, mosalaki ria bewa atau juru bicara para tetua adat di kampung ini, jumlah keseluruhan rumah adat di kampung Wologai adalah 18 rumah adat, 5 rumah suku dan sebuah rumah besar. Jelasnya, rumah suku dipakai sebagai tempat penyimpanan benda pusaka atau peninggalan milik suku. Sedangkan rumah besar hanya ditempati saat berlangsung ritual adat.

“Bentuk atap rumah adat yang menjulang memiliki filosofi yang berhubungan dengan kewibawaan para ketua adat yang didalam struktur adat dianggap dan dipandang lebih tinggi dari masyarakat adat biasa,” terangnya.

Mencermati rumah adat di Wologai seyogyanya mirip dengan rumah adat lainnya milik etnis Lio. Bagian kolong rumah (lewu) dahulunya dipergunakan untuk memelihara ternak seperti babi dan ayam. Ruang tengah digunakan sebagai tempat tinggal, sedangkan loteng difungsikan sebagai tempat menyimpan barang-barang yang akan digunakan pada saat ritual adat.

Aloysius Leta seorang pemahat patung yang ditemui di pelataran rumah adat menjelaskan, zaman dahulu leluhurnya adalah kelompok nomaden, hingga akhirnya memutuskan menetap di Wologai.

“Tiap suku mempunyai bentuk bangunan rumah adat yang sama namun memiliki ciri khas yang berbeda seperti ukiran yang ada pada tiang kayu bangunannya,” jelas Leta. “Dahulu pun atap rumah tidak boleh dari ijuk tetapi alang-alang. Tapi sekarang banyak yang mempergunakan ijuk, sebab jika pakai alang-alang maksimal 3 tahun sekali atapnya harus diganti. Sementara kalau dengan ijuk bisa bertahan puluhan tahun.”

Menurut Leta, untuk membangun rumah adat tidak boleh sembarang. Perlu didahului dengan ritual adat Naka Wisu. Yaitu aturan memotong pohon di hutan untuk digunakan sebagai tiang penyangga rumah. Ritualnya harus dilakukan pukul 12 malam, dengan terlebih dahulu perlu menyembelih seekor ayam.

Demikian pula dengan keberadaan Kampung Adat Wologai. Leo menjelaskan masyarakat masih mempertahankan bentuk kampung adat karena tunduk dan taat pada perintah leluhur yang berpesan untuk selalu menjaga tradisi yang telah dilakukan turun-temurun.

Dalam setahun jelasnya di Kampung Adat terdapat dua ritual besar yakni panen padi, jagung dan kacang-kacangan (Keti Uta) pada bulan April, dan tumbuk padi (Ta’u Nggua) pada bulan September. Puncak ritual Ta’u Nggu’a adalah Pire dimana selama 7 hari masyarakat tidak menjalankan aktivitas hariannya.

“Selama masa ini seluruh masyarakat adat Wologai dilarang melakukan aktifitas pekerjaan seperti bertani, mengiris tuak dari pohon enau dan lainnya. Mirip upacara Nyepi di Bali,” jelasnya.

Setelah melewati berbagai upacara, maka komunitas adat akan menggelar ritual Gawi atau menari bersama di atas pelataran di sekeliling Tubu Kanga sebagai simbol mengucap kegembiraan dan kebersamaan. Gimana? Apakah kamu tidak ingin ke Wologai, kampung yang berusia 800 tahun tersebut? Sampai bertemu pada artikel selanjutnya ya. Terima kasih.

Ada Perkebunan Karet Di Anambas

posted in: info | 0

Pasti kamu belum tahukan bahwa ada perkebunan karet di Anambas? Kok bisa ya? Yuk, liat seperti apa ulasannya dibawah ini.

Pembukaan lahan di Pulau Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, yang rencananya akan difungsikan sebagai perkebunan karet oleh PT Kartika Jemaja Jaya (KJJ) mendapat penolakan keras dari warga setempat. Penolakan muncul, karena bakal perkebunan seluas 36,05 kilometer persegi tersebut menyalahi peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk kepulauan eksotik tersebut.

Ketua DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Marthin Hadiwinata menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014, seharusnya pemanfaatan pulau-pulau kecil tidak diprioritaskan untuk perkebunan monokultur seperti perkebunan karet. “Klausul tersebut dimuat dalam Pasal 23 ayat (dua) UU Nomor 1 Tahun 2014,” ujar dia belum lama ini.

Menurut Marthin, untuk pulau-pulau kecil seperti Pulau Jemaja, seharusnya prioritas pemanfaatannya untuk kawasan konservasi, pendidikan dan pelatihan. Selain itu, juga penelitian dan pengembangan, budi daya laut, pariwisata, usaha perikanan dan kelautan, industri perikanan secara lestari, pertanian organik, peternakan dan/atau pertahanan dan keamanan negara.

“Pemerintah harus bertindak tegas dalam kasus ini. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) harus segera merespon penolakan masyarakat tersebut,” tutur dia.

Munculnya penolakan warga di Anambas, kata Marthin, mencermikan ada yang tidak beres dalam pengawasan di daerah. Hal itu, karena peruntukkan pulau-pulau kecil sudah diatur dengan tegas dan detil dalam Undang-Undang. Tetapi, justru Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau mengabaikan penolakan tersebut sekian lama.

“Protes warga berkaitan dengan pemindahan alat berat ke kawasan yang direncanakan menjadi kebun karet tidak mungkin tidak diketahui oleh pemerintah provinsi,” papar dia.

Marthin menyebutkan, model pemanfaatan perkebunan karet yang monokultur yang rencananya akan dilaksanakan di Jemaja, bertentangan dengan pola pemanfaatan pulau-pulau kecil berdasarkan kesatuan ekologis dan ekonomis secara menyeluruh dan terpadu dengan pulau besar di dekatnya. Kata dia, perkebunan karet akan berdampak buruk terhadap cadangan persediaan air di pulau Jemaja.

Cadangan Air

Menurut Marthin, jika kelangkaan air terjadi, maka itu akan menurunkan kualitas hidup warga dan juga lingkungan hidup di kawasan tersebut. Tak hanya itu, jika perkebunan karet tetap dibuka, maka itu akan berdampak buruk pada hutan asli Anambas yang di dalamnya terdapat tanaman kayu keras yang berusia puluhan hingga ratusan tahun.

“Alih fungsi hutan alami di Pulau Jemaja menjadi perkebunan karet sudah pernah mendapat penolakan oleh Bupati Anambas sejak setahun yang lalu dan beliau sendiri bahkan pernah memohonkan pembatalan izin perkebunan tersebut kepada Presiden Joko Widodo,” ungkap dia.

Munculnya penolakan tersebut dari Bupati, kata Marthin, tidak lain karena Kepulauan Anambas adalah wilayah kabupaten yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil yang rentan terkena bencana dan juga perubahan iklim. Padahal, dengan luas wilayah daratan yang hanya 560 km2 dari total 46.664 km2, perubahan sekecil apapun akan berdampak sangat cepat.

Dengan luas hanya 78 kilometer persegi, Marthin menuturkan, Pulau Jemaja sangat rentan mengalami kerusakan alam. Apalagi, rencana perkebunan karet luasnya mencapai 36,05 kilometer persegi atau mencapai luas setengah pulau, itu akan berdampak sangat cepat.

Berdasarkan fakta-fakta yang ada di lapangan tersebut, KNTI mendesak Pemerintah Pusat untuk segera merespon penolakan masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas terhadap rencana pembukaan perkebunan karet oleh PT KJJ.

Untuk itu, Marthin mengatakan Pemerintah Pusat harus segera membekukan dan memberikan sanksi terhadap Izin Lingkungan perkebunan karet di Jemaja. Selain itu, segera lakukan audit lingkungan hidup terhadap proyek tersebut yang berpotensi menimbulkan dampak buruk di Pulau Jemaja.

“Menteri Kelautan dan Perikanan (harus) melakukan pengkajian dan analisis menyeluruh terhadap dampak lingkungan, sosial-ekonomi atas rencana perkebunan karet di Pulau Anambas. Mengingat, salah satu kewenangan yang dimiliki terkait dengan pengelolaan pulau-pulau kecil ada di tangan dia,” tandas dia.

Evaluasi Investasi

Sementara itu Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Moh Abdi Suhufan menerangkan, sebagai pulau kecil, Pemerintah harusnya bisa menegaskan regulasi untuk penananaman investasi, baik bagi investor dalam negeri ataupun asing. Dengan demikian, tidak akan ada permasalahan seperti di Pulau Jemaja yang terjadi saat ini.

Abdi Suhufan mengatakan, rencana dan kegiatan investasi PT KKJ di pulau Jemaja sebenarnya sudah dimulai sejak 1987 atau 30 tahun silam. Perusahaan tersebut mendapatkan izin lokasi pembangunan perkebunan tanaman karet dari Bupati Anambas pada 2009 dan persetujuan prinsip pencadangan kawasan hutan produksi pada tahun yang sama dari Menteri Kehutanan.

Akan tetapi, setelah mendapatkan berbagai izin, Abdi menyebutkan, perusahan tersebut sepanjang 2009 hingga 2016 tidak melakukan kegiatan investasi yang signifikan di lapangan. Tidak itu saja, dalam kurun waktu tersebut, perusahaan bahkan mengubah bentuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) menjadi penanaman modal asing (PMA).

“Padahal jangka waktu perizinan yang diberikan oleh Pemerintah sangat terbatas. Izin lokasi yang dikeluarkan oleh Bupati Anambas hanya berlaku tiga tahun saja sejak dikeluarkan,” jelas dia.

Dengan segala permasalahan tersebut, Abdi menilai, sangat wajar jika masyarakat melakukan penolakan terhadap rencana investasi tersebut. Pasalnya, warga menilai tidak ada manfaat bagi lingkungan dan masyarakat atas kehadiran perkebunan karet tersebut.

“Pemerintah Pusat seakan menutup mata atas kegelisahan dan penolaKan masyarakat lokal, termasuk Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas yang sudah setahun ini meminta agar persetujuan rencana pembukaan perkebunan karet di pulau Jemaja agar ditinjau ulang,” kata Abdi.

Menurut Abdi, penolakan muncul karena masyarakat pulau Jemaja menyadari dampak negatif yang akan terjadi jika perkebunan karet dibiarkan ada. Dampak tersebut terutama pada ekosistem pulau yang terancam akan rusak. Oleh itu, masyarakat kemudian memilih investasi untuk usaha perikanan dan kelautan, serta untuk wisata bahari jika ada investor yang berminat menanamkan modal.

Untuk diketahui, Kabupaten Kepulauan Anambas terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Kepualaun Anambas. Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas adalah 46.664.14 km2 atau 2.47 persen dari luas Indonesia yang mencapai 1.890.754 km2.

Di Pulau Jemaja sendiri, terdapat dua wilayah administrasi kecamatan, yakni Kecamatan Jemaja dan Jemaja Timur. Di pulau tersebut, juga terdapat bandar udara Anambas yang menjadi penghubung antara wilayah kepulauan tersebut dengan Batam, kota terbesar di Provinsi Kepri.

Nah, itu lah sedikit informasi tentang perkebunan karet yang ada di Anambas. Semoga bermanfaat ya…

Demi Kelestarian Laut, Nelayan NTB Tidak Lagi Menangkap Benih Lobster

posted in: info | 0

Hay guys, kali ini saya sangat setuju dengan ulasan kali ini, kenapa? Bayangkan saja, demi kelestarian laut, nelayan di NTB tidak lagi menangkap benih lobster. Respect! Yuk, simak ulasannya dibawah ini.

Upaya menjaga sumber daya laut, salah satunya benih lobster, melalui penerapan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56 Tahun 2016 tentang Larangan dan Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan, terus dilakukan. Terutama, di Nusa Tenggara Barat, provinsi yang menjadi sumber produksi benih lobster.

Di wilayah yang masuk Kawasan Timur Indonesia (KTI) itu, ribuan nelayan yang sebelumnya berprofesi penangkap benih lobster, sudah menyatakan berhenti melakukan aktivitas tersebut. Namun, deklarasi ini dinilai sejumlah kalangan yang kontra hanya akal-akalan saja, karena akan mematikan ekonomi rumah tangga (RT).

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto di Jakarta, pekan lalu mengatakan, ribuan nelayan yang tersebar di tiga daerah, yakni Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat dan Lombok Timur, membantah semua tuduhan pihak yang kontra. Bahkan, kata dia, nelayan dengan sikap terbuka menerima bantuan kompensasai Pemerintah Indonesia.

“Masyarakat eks penangkap benih lobster sudah menyatakan siap menerima bantuan kompensasi bagi usaha budidaya ikan,” ujarnya.

Menurut Slamet, dari hasil penelusuran di lapangan langsung, dia dan tim mendapatkan fakta bahwa semua elemen masyarakat memperlihatkan kekompakan dengan tetap menghentikan aktivitas penangkapan benih lobster. Bagi masyarakat, penghentian adalah upaya yang paling masuk akal, karena bisa menyelamatkan sumber daya laut dan sekaligus menyelamatkan ekosistemnya.

“Masyarakat yang telah terverifikasi sebagai calon penerima bantuan, tidak ada satupun yang menolak dan mengembalikan bantuan yang akan diberikan. Mereka tetap komitmen dengan ikrar yang sudah diucapkan,” jelas dia.

Ucapan Slamet diperkuat oleh pernyataan Kepala Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Haji Bangun. Menurut dia, tidak satupun warga yang menolak bantuan. Ia justru heran karena berkembang isu penolakan bantuan.

“Justru, kami menunggu bantuan terealisasi dalam waktu dekat. Harapannya, usaha budidaya akan berjalan sukses, sehingga ekonomi kami kembali bangkit,” ungkapnya.

Hal senada dituturkan Amaq Mita, warga yang sebelumnya berprofesi sebagai penangkap benih lobster di Teluk Gerupuk, Lombok Tengah. Menurut dia, warga dan nelayan sudah berikrar menghentikan aktivitas penangkapan benih lobster. “Kami siap menerima bantuan yang akan digunakan untuk alih usaha ke budidaya ikan,” tandasnya.

Dana Kompensasi

Untuk memuluskan implementasi Permen KP Nomor 56 Tahun 2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah mengalokasikan dana sebesar Rp50 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk biaya kompensasi pemberlakuan Permen kepada nelayan dan pembudidaya ikan.

Slamet Soebjakto menyebutkan, dana kompensasi di antaranya akan diberikan untuk 2.246 RT eks penangkap benih lobster, masing-masing di Kabupaten Lombok Tengah sebanyak 873 RTP, Lombok Timur 1.074 RTP dan Lombok Barat sebanyak 229 RTP.

“Kami telah menyerap aspirasi masyarakat dengan memberikan kesempatan pilihan usaha budidaya yang akan digeluti pasca-pengalihan. Karena sebenarnya, mereka pada awalnya pembudidaya ikan, jadi kami akan kembalikan pada profesi semula,” jelasnya.

Sementara, Direktur Badan Layanan Usaha (BLU) KKP Sharif Syahrial mengungkapkan, pihaknya siap membantu akses pembiayaan pengembangan usaha budidaya melalui sistem pinjaman lunak. Kata dia, masyarakat tinggal mengajukan proposal pinjaman melalui pendamping BLU yang ada di daerah masing-masing dan kemudian ditindaklanjuti.

Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto mengapresiasi kesadaran masyarakat eks penangkap benih lobster untuk menghentikan kegiatannya. Menurutnya, ini menandakan masyarakat mulai memahami pentingnya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Rifky mengungkapkan, setidaknya 4 juta ekor benih lobster yang bernilai ekonomi sangat besar, setiap tahun keluar dari NTB dengan tujuan utama ke Vietnam. Menurutnya, fenomena eksportasi benih lobster tersebut justru menguntungkan negara lain, sementara Indonesia tidak bisa merasakan nilai tambah apa-apa.

“Pemerintah sadar bahwa implementasi aturan ini pasti akan memberikan dampak ikutan yang akan mempengaruhi ekonomi masyarakat. Pemerintah tidak akan tinggal diam, telah siapkan antisipasi atas dampak ikutan tersebut dengan memberikan kompensasi berupa dukungan usaha pembudidayaan ikan,” pungkasnya.

Pocongan Lobster

Dikenal sebagai provinsi sentra produksi lobster, ikrar yang diucapkan para nelayan di tiga kabupaten NTB ini bermakna sangat dalam. Alasannya, rencana Pemerintah untuk menjaga potensi lobster yang masih ada bisa terus berlanjut. Selain berikrar, para nelayan juga memusnahkan ribuan alat tangkap benih lobster atau dalam istilah nelayan setempat disebut pocongan.

Pemusnahan pocongan dilakukan dengan cara dibakar di Teluk Bumbang yang merupakan salah satu sentral terbesar tangkapan benih lobster di Lombok. Di teluk tersebut, sedikitnya ada 1.000 lubang keramba jaring apung (KJA) yang di dalamnya berisi pocongan. Itu berarti, dalam sehari bisa puluhan ribu benih lobster yang tertangkap dan diperjualbelikan secara ilegal.

Padahal, selain Teluk Bumbang, sentra benih lobster di Lombok ada juga di empat lokasi lainnya, yakni Teluk Awang, Teluk Gerupuk, Teluk Ekas dan Teluk Sepi. Artinya, jumlah tangkapan benih lobster setiap hari diperkirakan berkali lipat banyaknya.

Panjang Jumadi, nelayan yang biasa menangkap benih lobster, mengaku menghentikan aktivitas menguntungkan tersebut karena sadar bahwa kegiatan tersebut tidak benar. Karenanya, dia bersama masyarakat sepakat beralih ke usaha perikanan budidaya.

Sebagai gambaran bagaimana tingginya eksploitasi benih lobster, pada 2015 ada upaya penyelundupan 1,9 juta ekor benih lobster senilai Rp98,3 miliar ke berbagai daerah dan luar Indonesia. Sementara, dalam rentang 2014 total benih lobster yang keluar dari NTB tercatat 5,6 juta ekor dengan nilai mencapai Rp130 miliar.

Kesadaran Masyarakat

Ikrar dari warga dan nelayan di tiga kabupaten di NTB, menjelaskan bahwa saat ini pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber daya laut, perlahan tapi pasti, meningkat. Masyarakat semakin sadar bahwa menangkap benih lobster ataupun lobster dengan ukuran berat maksimmal 200 gram atau lebih kecil lagi dan sedang bertelur, adalah kesalahan.

“Kami juga bersedia memusnahkan alat tangkap benih, dan turut serta menjaga kelestarian sumberdaya kelautan dan perikanan. Serta, sepakat melaporkan penerima bantuan yang masih melakukan aktivitas penangkapan benih kepada Pemerintah dan aparat terkait,” ucap Legur, nelayan dari Lombok Tengah yang berikrar di depan pejabat Pemprov NTB dan masyarakat.

Selain Legur, ada juga Saeful Rizal, nelayan dari Lombok Barat dan Lalu Mahruf, nelayan dari Lombok Timur. Ketiga nelayan itu, menjadi wakil dari tiga kabupaten saat melakukan ikrar. Saat berikrar, selain berjanji tidak akan menangkap benih lobster lagi, ketiganya juga berjanji bersama masyarakat akan mulai beralih ke usaha budidaya ikan.

Slamet Soebjakto berpendapat, dengan adanya ikrar dari nelayan dan masyarakat di tiga daerah tersebut, menunjukkan bahwa implementasi Permen KP Nomor 56 Tahun 2016 semakin bagus.

“Implementasi Permen ini bukan semata-mata didasarkan pada niatan untuk mematikan usaha masyarakat, namun Pemerintah justru ingin menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Yaitu, bagaimana menyelamatkan sumber daya lobster agar nilai ekonominya bisa dinikmati secara jangka panjang,” ungkap dia.

Menurut Slamet, meski ada yang menentang dengan pemberlakuan Permen tersebut, semua harus disikapi sebagai bagian dari pembelajaran bangsa Indonesia yang mengemban tugas dan tanggung jawab untuk mengelola sumber daya berkelanjutan. Aspek keberlanjutan harus dimaknai oleh semua pihak sebagai proses untuk memanfaatkan sumber daya tanpa mengorbankan generasi mendatang. “Mereka juga punya hak yang sama atas sumber daya yang ada, kuantitas maupun kualitasnya,” ucap dia.

Pentingnya menumbuhkan kesadaran di NTB, menurut Slamet, karena di provinsi ini banyak potensi sumber daya kelautan yang bisa diandalkan, terutama lobster. Untuk itu, penting menjaga kelestarian aset tersebut, sehingga siklus kehidupan lobster berjalan normal.

“Jika eksploitasi benih lobster terus berlangsung, dipastikan siklus kehidupan lobster akan terputus, dampaknya adalah ketersediaan stok lobster di alam akan menurun drastis. Sangat mungkin, anak cucu kita tidak akan mengenali lagi komoditas satu ini,” paparnya.

Gimana artikel diatas guys? Sangat bermanfaat pastinyakan? Mari kita belajar dari para petani ini.

Fakta Tentang Hormon Cinta, Bukan Sekedar Menguatkan Ikatan Cinta

posted in: info | 0

Nah, kali ini saya akan membahas tetang hormon cinta, yang bukan sekedar menguatkan ikatan cinta. Hormon yang biasa disebut hormon cinta ialah hormon oksitosi. Yuk, langsung simak dibawah ini.

Hormon oksitosin adalah sebuah hormon yang dihasilkan oleh tubuh manusia yang juga biasa disebut sebagai “hormon cinta”, hal itu disebabkan karena pada saat orang berpelukan maka hormon tersebut akan keluar secara bersamaan. Menurut sebuah studi 2009 yang diterbitkan dalam journal Hormones and Behaviour, produksi hormon oksitosin bisa meningkat kapan saja, bahkan pada saat bermain dengan binatang peliharaan.

Hormon oksitosin tak hanya terdapat pada wanita, namun juga bisa dihasilkan oleh pria, hanya saja efeknya pada pria sedikit berbeda. Pada wanita, oksitosin akan bekerja sama dengan hormon–hormon seksual seperti estrogen dan progesteron. Oksitosin memiliki sel target berupa sel –sel otot uterus (rahim) serta sel – sel kelenjar mamae (kelenjar susu).

Ketika terjadi kehamilan, tubuh induk betina akan mensekresikan semacam hormon HCG, yakni hormon pertanda adanya embrio yang sedang berkembang di dalam rahim, yang disekresikan oleh plasenta. Hadirnya hormon ini akan ditangkap oleh hipotalamus, sehingga respon hipotalamus akan mensekresikan oksitosin dan prolaktin dalam jumlah secara bertahap.

Hormon oksitosin adalah hormon yang sangat penting, terutama bagi para wanita. Seorang behavioral neuroscientist di Emory University, Atlanta, Georgia, yang benama Lary Young menyatakan bahwa hormon tersebut sangat dibutuhkan pada saat proses pesrsalinan. “Oksitosin adalah peptide yang diproduksi di otak , yang pertama kali berperan dalam proses melahirkan dan juga dalam proses menyusui,” ungkap Lary Young.

Hormon ini menyebabkan kontraksi rahim selama persalinan dan membantu mengecilkan rahim setelah persalinan. Pada saat bayi pertama kali menyusu pada payudara ibunya, rangsangan dari isapan bayi saat menyusu akan diteruskan menuju hipotalamus yang memproduksi hormon oksitosin.

Proses selanjutnya, hormon oksitosin akan memicu otot-otot halus di sekitar sel-sel yang memproduksi Air Susu Ibu (ASI). Otot-otot tersebut akan berkontraksi dan mengeluarkan ASI. Proses ini disebut let down reflect (refleks keluarnya ASI). Oksitosin juga berperan dalam ikatan ibu dan anak. Pelukan kasih sayang yang diberikan ibu pada bayinya, akan menimbulkan rasa bahagia.

Meski begitu, faktanya hormon cinta tidak hanya mempengaruhi hubungan romantis saja. Apa saja faktanya? berikut ulasannya

1. Dapat Meredakan Stres dan Meningkatkan Proses Pencernaan

Bukan hal yang mengejutkan apabila hormon cinta bisa meredakan stres, bukan hanya itu, hormon ini juga bisa menurunkan tekanan darah dan meningkatkan proses percernaan.

Dimana diketahui di dalam sistem percernaan terdapat reseptor hormon cinta. Karena hal itulah, hormon oxytocin dapat mengontrol pergerakan usus, menurunkan peradangan pada usus dan meningkatkan proses percernaan.

2. Mencegah Depresi

Tingkat hormon oxytocin yang rendah sudah sejak lama selalu dikaitkan dengan timbulnya depresi dan kecemasan. Dipercaya kekurangan hormon cinta bisa memicu timbulnya depresi dan kecemasan yang berlebihan.

3. Meredakan Rasa Sakit

Hormon oxytocin memiliki zat anti peradangan yang berguna membantu meredakan rasa sakit dan dapat mempercepat penyembuhan luka. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa hormon ini bisa juga meredakan kram, sakit otot, migran dan sakit kepala.

4. Mengatasi Rasa Takut

Hormon oxytocin tidak hanya bermanfaat untuk masalah cinta saja, hormon cinta juga bisa membantu mengatasi rasa takut. Diketahui hormon oxytocin juga bisa meningkatkan rasa optimis dan kepercayaan. Hormon ini juga bisa membantu orang agar lebih mudah bersosialisasi dengan orang lainnya.

5. Menguatkan Ikatan Hubungan Antar Pasangan

Hormon ini berperan penting dalam membangun ikatan hubungan antar pasangan, seperti menguatkan kepercayaan, keintiman dan meningkatkan gairah seksual serta ketertarikan antar pasangan.

6. Ikatan Antara Ibu Dengan Seorang Anak

Seperti yang diketahui sebelumnya, hormon Oxytocin dapat menguatkan ikatan antar seorang ibu dengan anaknya dan hormon ini juga membantu saat proses melahirkan dengan cara mempercepat kotraksi, makanya terkadang hormon Oxytocin disuntikan dalam bentuk sintetis untuk membantu wanita melahirkan.

Karena dipengaruhi hormon ini, hanya dengan menyentuh dan mengendong bayinya, seorang ibu sudah membentuk kepercayaan, keintiman dan ikatan yang kuat dengan bayinya. Tidak hanya itu, hormon ini juga dibagi saat seorang ibu menyusui bayinya.

7. Selalu Siap Digunakan Kapan Saja

Pelukan, ciuman dan kontak fisik lainnya yang berhubungan dengan cinta akan membuat otak mengeluarkan hormon cinta dan efek jangka panjangnya adalah kepercayaan yang akan semakin meningkat.

8. Bisa Membuat Kamu Jadi Pembohong

Umumnya hormon Oxytocin akan semakin meningkat apabila berinteraksi dengan dunia di sekitar kita, misalnya pada saat kamu terdesak karna ketahuan selingkuh, maka hormon ini akan meningkat. Bila kamu tidak ingin mengakui perbuatanmu, akhirnya hormon inilah yang akan mendesak kamu untuk berbohong.

9. Bisa Membuat Seseorang Fanatik Terhadap Sesuatu

Hormon ini memang sangat erat hubungannya dengan rasa cinta, maka tidak heran apabila hormon ini bisa membuat seseorang fanatik terhadap sesuatu, misalnya kamu sudah lama tinggal dan menetap di Medan, maka kamu bangga jadi orang Medan.

10. Dapat Menyebabkan Kantuk

Ini berlaku untuk hormon Oxytocin buatan yang dihirup atau disuntikan, karena pada dasarnya hormon ini bisa meredakan kecemasan dan stres untuk menenangkan dengan cara membuat seseorang mengantuk.

Nah, itulah beberapa fakta tentang Hormon Cinta. Sekarang kamu sudah mengetahui betapa menakjubkannya hormon cinta yang diproduksi oleh otak kita.

1 4 5 6 7 8 9 10 18